Menjaga Ekosistem Laut (Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan)

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki laut yang dapat dikelola sebesar 5.8 juta kmĀ² dan memiliki potensi serta keanekaragaman sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar.

Perikanan, salah satu sektor yang diandalkan untuk pembangunan nasional serta sumber mata pencaharian nelayan, perlu dipertahankan keberlanjutannya. Bukan sekedar tingkat penangkapan perikanan, namun juga aspek-aspek lain seperti ekosistem, struktur sosial ekonomi, komunitas nelayan dan pengelolaan kelembagaannya.

Pengembangan perikanan haruslah mempertimbangkan bio-technico-socio-economic approach yaitu secara biologi tidak merusak atau mengganggu kelestarian sumber daya ikan, secara teknis alat tangkap harus efektif untuk dioperasikan, secara sosial alat tangkap dapat diterima oleh masyarakat nelayan, secara ekonomi harus menguntungkan.

Adapun alat penangkap ikan yang dilarang menurut peraturan perundangan :

UU No. 45 Tahun 2009

  1. Bahan peledak
  2. Bahan Kimia (contoh: Potasium Sianida)
  3. Bahan Biologis (contoh: racun tumbuhan)
  4. Alat, cara, bangunan yang dapat merugikan atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan (contoh: setrum)

Permen KP No. 2 Tahun 2015

  1. Pukat Hela (trawls)
  2. Pukat Tarik
  3. Lampara, Dongol, Cantrang, Payang

Permen KP No. 71 Tahun 2016

  1. Pukat Hela
  2. Pukat Tarik
  3. Perangkap (Aerial dan Muro Ami)

Namun apalah arti diterapkannya kebijakan jika pelaku utama kebijakan tersebut tidak mengerti sepenuhnya mengapa kebijakan tersebut dibuat?

Oleh karena itu, langkah utama haruslah dengan dilakukan pencerdasan terhadap masyarakat nelayan tentang keberlanjutan ekosistem laut, meliputi tingkat dan teknik penangkapan, ukuran ikan layak tangkap, keragaman spesies tangkapan, dan pemahaman tentang ekosistem bawah laut.

Alat Penangkapan Ikan yang tidak ramah lingkungan antara lain :

  1. Bom
  2. Potasium Sianida
  3. Setrum
  4. Pukat Harimau
  5. Cantrang
  6. Perangkap ikan peloncat (Aerial traps)

Kriteria Alat Penangkap Ikan yang Ramah Lingkungan (berdasarkan Code of Conduct for Responsible Fisheries, FAO 1995) :

  1. Selektivitas Tinggi
    • Diupayakan hanya menangkap ikan target
  2. Tidak Merusak Habitat
    • Alat tangkap tidak merusak habitat, tempat tinggal dan perkembangbiakan ikan
  3. Aman Bagi Nelayan
    • Alat tangkap tidak membahayakan pemakai
  4. Menghasilkan Ikan Bermutu Baik
    • Ikan yang ditangkap dalam keadaan hidup/segar
  5. Produk Tidak Membahayakan Kesehatan Konsumen
    • Ikan yang ditangkap aman dimakan, tidak menyebabkan gangguan kesehatan
  6. Hasil Tangkapan Sampingan Rendah
    • Hasil tangkapan sampingan kurang dari 3 jenis dan berharga tinggi
  7. Memberikan Dampak Minimum Terhadap Biodiversity
    • Alat tangkap aman bagi keanekaragaman sumberdaya hayati
  8. Tidak Menangkap Spesies Yang Dilindungi
    • Alat tangkap tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau yang terancam punah
  9. Diterima Secara Sosial
    • Tidak bertentangan dengan budaya setempat, dan peraturan yang ada

Kondisi lautan yang baik juga berdampak pada hasil penangkapan yang baik pula. Maka dari itu, nelayan juga harus menjaga laut dari pencemaran dengan memulai kebiasaan penggunaan alat penangkap ikan yang ramah lingkungan.

(CW/Sekret)

7 pemikiran pada “Menjaga Ekosistem Laut (Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan)”

    • Menangkap ikan dengan jaring termasuk ramah lingkungan tergantung dari jenis jaring yang digunakan.
      Contoh jaring yang dapat digunakan :
      1. Jaring insang (gillnet and entangling nets)
      2. Jaring lingkar (surrounding nets)
      3. Jaring angkat (lift nets)

      Jaring yang tidak ramah lingkungan / sifatnya merusak :
      – Jaring pukat harimau (trawl)

    • Dalam Permen No. 59 Tahun 2020, ada 3 alat tangkap yang diperbolehkan kembali, yakni cantrang, pukat hela dasar udang, dan dogol.

      Ada beberapa ketentuan legalisasi cantrang dalam peraturan tersebut :
      – Cantrang bakal menggunakan square mesh window pada bagian kantong. Tujuannya agar ketika ditarik, ikan-ikan kecil yang terjaring masih bisa lolos. Jalur penangkapan bagi kapal di bawah 10-30 GT, hanya boleh beroperasi di jalur II dengan jarak 4-12 mil laut. Sedangkan bagi kapal di atas 30 GT, penggunaan alat tangkap cantrang hanya boleh di jalur III dengan jarak lebih dari 12 mil laut.

      Selain cantrang, ada dogol. Alat tangkap yang sebelumnya dilarang ini boleh beroperasi di jalur 1B dengan jarak 2-4 mil laut dan jalur II dengan jarak 4-12 mil laut. Wilayah operasinya hanya boleh di WPP 571, WPP 711, WPP 712, WPP 713, WPP 714, WPP 715, dan WPP 718.

      Sedangkan untuk pukat hela dasar udang hanya boleh beroperasi di WPP 718 Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor, yang karakter dasar perairannya bersubstrat pasir bercampur lumpur sebagai habitat udang. Pukat hela dasar udang ini hanya boleh dioperasikan pada dasar perairan dengan kedalaman minimal 10 meter di jalur III dengan jarak lebih dari 12 mil. Dilengkapi perangkat pelolosan dan pereduksi hasil tangkapan sampingan, seperti TED (turtle Excluder Device).

      Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “KKP Kaji Pelegalan dan Pelarangan Alat Tangkap Ikan, Ini Jenis-jenisnya”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2021/01/31/160300026/kkp-kaji-pelegalan-dan-pelarangan-alat-tangkap-ikan-ini-jenis-jenisnya?page=all.

Tinggalkan komentar